Advertise

Saturday, September 27, 2014

Wawancara

Mudah-mudahan artikel di blog ini tidak menjadi media kesombongan, karena kesombongan bukan milik manusia.

Kali ini saya akan berbagi cerita tentang pengalaman saat mengikuti proses wawancara di sebuah perusahaan swasta. Bermula dari informasi senior tentang adanya wawancara berjalan, di sana dibuka banyak sekali lowongan, salah-satunya sesuai bidang yang saya kuasai. Tidak mudah bagi saya untuk memutuskan mengikuti kegiatan tersebut, karena lokasinya jauh, dana yang saya miliki pun terbatas.

Saat itu saya masih memiliki tanggungan satu angsuran terakhir pinjaman ke bank. Bulan September 2014 ini seharusnya dana cadangan yang dibekukan bank cair dan digunakan untuk pelunasan terakhir. Namun dengan pertibangan selama 7 bulan ini saya idle, proses belajar budidaya lele yang saya jalani sudah selesai, jika akan dikembangkan akan memerlukan biaya yang cukup besar sedangkan saya belum memilikinya, beberapa rekan memerlukan bantuan dana dan saya tidak mampu membantunya, pendidikan terakhir yang saya tempuh pun belum sepenuhnya saya maksimalkan manfaatnya. Akhirnya dengan semua pertimbangan di atas maka saya memohon perlindungan kepada Alloh SWT dari sifat serakah dan keduniawian. Saya niat mengikuti kegiatan tersebut dengan tujuan ibadah.

Berita tentang adanya wawancara berjalan saya terima pada hari Selasa. Hari itu saya hanya melihat-lihat list posisi yang ditawarkan. Malam itu belum saya bicarakan dengan istri tercinta. Hari Rabu kemudian saya mengeutarakan keinginan mengikuti wawancara berjalan, istri saya agak kaget karena selama ini saya sangat berniat untuk berwirausaha. Saya utarakan pertimbangan di atas, istri saya bisa menerima.

Gambar diambil dari Boyolalipos[dot]comUntuk ancang-ancang tempat singgah di Jakarta saya menghubungi adik saya yang sekarang tinggal di Bekasi. Setelah beberapa pertimbangan kapan saya berangkat, akhirnya diputuskan berangkat hari Jumat pagi memakai kereta. Pemesanan online tidak bisa dilakukan karena status di webnya tertera "tersedia" saja, tidak bisa saya booking.

Hari Rabu itu saya mencoba menghubungi beberapa rekan untuk ikut serta mengambil kesempatan tersebut, sebetulnya hanya untuk menambah semangat saja karena dua kali saya mengikuti wawancara berjakan, dua kali pula saya gagal. Namun itu dulu saat saya belum memiliki pengalaman, saat ini semua yang diperlukan sudah ada, tinggal niatnya saja.

Hari itu saya cetak print dan copy semua dokumen yang diperlukan, sambil browsing trik menghadapi pertanyaan pewawancara yang mungkin diluar jalur yang saya kuasai. Rencananya besok Kamis mempersiapkan materi yang berhubungan dengan teknis dan sekalian mencari tiket. Jadi besok malam masih bisa meluruskan badan di rumah.

Hari Kamis agak siang saya mencari tiket. Pertama saya cari bis dulu. Saya memang agak ndeso, cari-cari ke agen bus ternama tanya bus yang berangkat pagi, ternyata mereka spesialis bus malam. Waduh.. kemudian saya browsing untuk melihat ketersediaan tiket kereta. Ternyata kursi kosong sudah habis. Dengan terpaksa saya memesan bus malam yang berangkat Kamis malam itu. Semua persiapan perlengkapan dipercepat agar nanti bisa berangkat tepat waktu. Uang tabungan saya kuras, saya ambil sebagian untuk bekal di Jakarta, sebagian untuk uang belanja di rumah. Saya siapkan bekal sepas-pasnya, hanya cukup untuk pergi dan pulang saja, tidak saya siapkan untuk pengeluaran diluar dugaan.

Malam itu saya berangkat dengan bertawakal kepada Alloh SWT, yang Maha Mengatur, Maha Memiliki setip hanba-hambaNya. Malam itu adalah perjalanan pertama saya dari Semarang ke Bekasi. Saya belum tahu nanti akan berhenti di mana dan kemudian harus naik angkutan apa untuk bisa sampai ke tempat adik saya.

Hari Jumat jam 6 pagi saya sudah sampai di pemberhentian bus di Bekasi. Saya bingung mau kemana lagi, tanya adik diminta ambil jurusan ke terminal bayangan Jatibening yang jalurnya ke arah tol. Saya bingung tol itu jalurnya dari tempat saya berdiri atau di sebrang jalan. Walaupun dulu saya pernah menjelajah area ini, namun saya tetap disorientasi Tanya orang yang sedang nunggu angkutan diminta naik bus M warna H. Bus disana banyak sekali, warnanya tidak jauh berbeda pula. Setelah di tunggu 10 menit akhirnya bis datang juga. Naiklah saya sambil mata tetap celingak-celinguk mencari tahu lokasi nanti saya berhenti.

Setelah sampai di terminal bayangan saya masih harus bertanya kemana saya bisa keluar dari terminal ini. Diberitahu petugas terminal, saya pun bergegas mengikuti petunjuknya. Sampai keluar terminal saya masih kebingungan. Ke arah mana tempat adik saya itu, sampai ditawarin bang ojek. Karena kondisi dana mepet, terpaksa menolak tawarannya. Dengan arahan adik saya akhirnya menemukann jalan masuknya. Ah.. saya bisa menikmati sarapan nasi uduk dulu.

Di sana ksaya ketemu keponakan yang semenjak lahir saya belum menemuinya. Senangnya bermain dengan keponakan saya, rasanya saya punya putri ke dua.

Pagi itu saya masih ingin beristirahat, meluruskan kaki karena tadi malam tidurnya tidak terlalu nyenyak. Tidur posisi duduk dengan suhu AC yang teramat sangat dingin semalaman membuat saya kurang nyaman. Tak berapa lama saya ketiduran.

Jam 9 pagi itu tiba-tiba telepon bunyi, yang manggil kantor tempat tujuan saya melamar. Lho koq bisa? Saya belum memasukkan lamaran tapi sudah ditelepon? Sang penelepon memberikan undangan untuk bisa mengikuti wawancara hari Senin minggu depan. Ternyata sebelumnya saya pernah mengajukan lamaran ke perusahaan tersebut dengan departemen yang berbeda namun baru bisa diproses sekarang. Saya bilang saya ada di Bekasi, mungkin siang ini saya bisa ke Jakarta.
Gambar diambil dari Ciricara[dot]com
Dengan persiapan yang serba terbatas saya meluncur ke Jakarta. Ikut wawancara, namun hasilnya tidak sesuai harapan karena pertanyaan yang diajukan diluar kemampuan saya. Saya diminta nunggu hasil oleh pewawancara.

Selama proses itu terjadi kejadian menggelikan. Sepatu yang saya pakai solnya jebol kiri-kanan, saya coba tambal sementara dengan lem namun masih tetap tidak bisa rapat. Sabuk yang saya pakai, besi kepalanya patah, jadi hanya mencantol saja, jika saya banyak bergerak pasti akan jatuh. Resleting tas saya juga terlepas, sehingga dengan terpasksa membeli peniti untuk menutupnya. Saya bertanya-tanya apakah ini tandanya saya harus meninggalkan Jakarta secepatnya? Atapi tujuan saya ke Jakarta bukan untuk mengikuti wawancara hari Jumat ini, namun hari Sabtunya.

Di sana saya bertemu beberapa senior saya di tempat saya dulu bekerja. Menawarkan bila ingin menginap untuk pulang Sabtu bisa di tempat dia, sekalian dia memberi tiket kereta yang rencananya akan dia pakai namun keberangkatannya diundur.

Saya berfikri-fikir, sebaikya ketempat adik dulu untuk ambil pakaian yang saya tinggalkan tadi pagi, kemudian kembali ke tempat kost senior saya untuk menumpang menginap dan berangkat esok harinya. Kesempatan wawancara berjalan akan saya tinggalkan karena saya sudah mengikuti wawancara Jumat ini, lagi pula sepatu saya sudah tidak bisa dipakai lagi karena rusak. Saat pulang dijemput adik pun saya memakai sandal jepit yang saya beli di kaki lima.

Setelah menikmati makan malam yang disediakan keluarga adik saya pamit untuk kembali ke Jakarta untk menginap di senior saya. Karena tiket kereta yang akan diberikan harganya lebih murah daripada tiket bus. Lumayan bisa irit ongkos. Ternyata rencana tersebut bukan jalan saya, bus kota yang saya tunggu tidak kunjung datang. Artinya saya harus menginap di tempat adik. Saya kembali dan beristirahat. Saya rubah rencananya, sambil mengisi waktu menunggu keberangkatan bus ke Semarang saya akan mengikuti wawancara berjalan.

Sabtu pagi saya masih kekurangan dokumen, karena dokumen yang saya bawa sudah saya berikan waktu wawancara Jumat kemarin. Saya tunggu sampai jam 8 pagi baru ada fotocopy dan rental yang buka. Aduh.. apa saya bisa sampai Jakarta jam 9 ya? Saat itu saya dalam antrian untuk prin dokumen yang mana orang yang di depan saya sedang kebingungan membuka email untuk print datanya dia. Dag.. dug.. dag.. dug.. tenang.. tenang.. Sepuluh menit baru dia bisa menyelesaikan print yang hanya 1 halaman. Waktu itu berharap bisa menyela dulu, karena data untuk saya print sudah tidak perlu diedit. Namun roman muka orang tersebut seperti tidak mau diganggu. Ya semuanya saya pasrahkan kepada Alloh SWT, Dia yang menggerakan setiap makhluk di muka bumi ini.

Jam 8.30 saya baru bisa berangkat dari tempat adik dengan meminjam sepatunya. Tepat jam 9 saya sudah sampai di gedung tempat saya akan menjalani wawancara. Syukurlah saya sudah mengusahakan yang saya bisa.

Di gedung itu buanyaaaaakkkk sekali pelamar. Saya pikir ini informasinya secara internal atau mamang dipublish ya? Koq banyak sekali yang datang? Saya hampir memutuskan untuk pergi meninggalkan gedung itu, karena saking banyaknya pelamar, persentase kemungkinan saya diterima sangat kecil.

Kejadian berikut adalah pemutar balik. Saya melihat rekan saya satu perusahaan dulu tengah mengantri. Saya dekati, ternyata di antrian tersebut ada sekitar 10 orang yang saya kenali. Alhamdulillah akhirnya ada teman. Saya tidak jadi bengonnya hehehe...

Saking kangennya saya sama rekan-rekan, sampai saya tidak mempedulikan antrian yang begitu bejubel. Kami memisahkan diri dari antrian dan bercerita panjang lebar sambil melepas jenuh. Lagi pula lebih cerdik menunggu antrian dengan santai daripada harus berdiri, sama saja nanti juga akan bisa memasuki ruang wawancara. Saya sendiri agak santai karena hari sebelunya sudah mengikuti wawancara jadi masih ada harapan.

Jam 12 saya dan rekan-rekan mulai merapat ke barisan antrian yang mulai kosong. Di tengah antrian tiba-tiba posisi yang saya lamar disebutkan, langsunsg saja saya masuk ruangan dan memberikan berkas.

Tahap pertama wawancara berjalan sangat lancar, selain pernah bertemu dengan pewawancara waat kerja dulu, pertanyaan yang diberikan pun merupakan materi yang saya pahami. Tahap pertama saya lolos dan diminta menunggu untuk proses wawancara tahap 2 setelah istirahat siang.

Selama istirahat setelah shalat Duhur saya bertemu junior saya saat sekolah. Bercerita sana-sini sambil melangkah kembali ke gedung tempat wawancara berlangsung.

Tak saya kira ternyata pelamar yang antri yang belum mengikuti wawancara tahap 1 masih banyak. Saya langsung masuk ruangan saja karena tadi diminta meunggu di ruanga tersebut. Di sana ada beberapa rekan yang menunggu juga.

Tak lama nama saya dipanggil, pada tahap kedua ini saya ditanya tentang keseharian, saya menjawab dengan lugas. Tahap ini saya lolos juga. Pewawancaranya saat itu adalah supervisor departemen yang saya lamar. Saya ditanya akan kemana setelah ini, saya bilang saya harus mengejar bus yang akan berangkat sore ini. Mendengan jawaban saya, beliau langsung memberi prioritas dengan mencarikan HR untuk saya.

Tahapan wawancara dengan HR pun berlangsung sangat cepat karena memang saya mengejar waktu. Setelah mengisi aplikasi lamaran saya langsung meluncur ke Bekasi. Jam menunjukan jam 15.40 saat itu. Apakah saya bisa sampai agen tepat waktu? Saya harus berjalan melewati jembatan penyebrangan, menunggu bus kotanya. Kalau saya masukkan pikiran pasti akan sangat pusing, karena saya sudah tidak memegang uang untuk membeli tiket lagi bila busnya sudah berangkat. Saya hanya pasrah saja, semua usaha sudah saya jalani, sekarang saya pasrahkan semuanya pada Alloh SWT.

Jam 16.00 bus kota arah Bekasi datang. Bus melaju diantara macetnya Jakarta. Perkiraan saya 1 jam mungkin baru sampai ke Bekasi, artinya saya nanti terlambat 30 menit dari jadwal keberangkatan yang seharusnya jam 16.30. Itu artinya pula saya harus bisa memutar otak untuk mendapatkan uang membeli tiket baru yang pastinya berangkat besok malam. Ya Alloh... apakah saya harus kehilangan satu hari di sini?

Alloh yang telah mengatur semuanya. Jam 16.28 bus tiba di pintu tol Bekasi Barat. Tepat setelah pak sopir membayar tiket tol saya minta untuk bisa turun karena saya melihat antrian yang begitu panjangnya. Tidak memungkinkan untuk hanya duduk di dalam bus menunggu sampai tujuan. Dari pintu keluar tol yang dipenuhi mobil yang mengantri saya berlari. Akhirnya dengan nafas turun naik saya bisa sampai agen bus jam 16.30. Di sana saya bertemu adik saya yang sudah membawakan pakaian saya dan memberikan bekal untuk perjalanan ke Semarang. Sepatu yang saya pinjam saya kembalikan. Saya pamitan sama adik dan naik bus.

Mungkin karena pekerjaan yang terburu-buru adalah pekerjaan syaitan, usaha saya berlari ternyata sia-sia, bis baru berangkat jam 17.30. Satu jam setelah saya memasuki pintu bis. Ini jadi pelajaran untuk saya.

Gambar diambil dari Starfish7-koga[dot]blogspot[dot]comJam 3.00 pagi bus yang saya tumpangi sampai di Semarang, saya bingung mau nunggu jemputan di mana. Karena jam 3 pagi di Semarang masih rawan dengan ulah perampas. Bukan saya hendak menakuti, namun berita yang saya baca di koran pagi, selalu ada saja perampasan yang dilakukan saat dini hari di jalanan. Semoga pak Polisi senantiasa dapat menjalankan tugas patroli dengan kelancaran agar masyarakat bisa terlindungi. Amin.

Saya berinisatif menunggu di pom bensin terdekat. Setelah shalat subuh saya dijemput. Alhamdulillah, luar biasa rasanya bisa kembali ke kehangatan keluarga setelah perjalanan yang "sesuatu banget".

Hari ini dua minggu setelah perjalanan di atas saya mendapat kabar baik, usaha saya tidak sia-sia. Proses lamaran saya sudah mencapai 90%, sudah negosiasi tentang masalah gaji dan tinggal menunggu satu tahap terakhir. Insya Alloh bila diperkenankan saya mulai bisa bekerja awal bulan depan. Insya Alloh niat bekerja untuk menjalankan ibadah kepadaNya.

Semoga pembaca artikel ini mendapat hikmah dari apa yang saya tulis. Terimakasih. Salam.

No comments:

Post a Comment

Artikel dilindungi UU No 19 Th 2002 pasal 72 ayat 1, 2. UU No 11 Th 2008 pasal 35. Picture Window theme. Powered by Blogger.